Posted by: Norma Puspita | April 15, 2012

KAJIAN KERENTANAN INFRASTRUKTUR KOTA TERHADAP DAMPAK PERUBAHAN IKLIM (STUDI KASUS BANGUNAN SEKOLAH SMPN/SMAN/SMKN KOTA PALEMBANG)

Norma Puspita, Budhi Setiawan dan Sarino
1Mahasiswa Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik ,Universitas Sriwijaya,
2 Staf Pengajar, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik , Universitas Sriwijaya,
3 Staf Pengajar, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik,Universitas Sriwijaya,

ABSTRAK
Palembang yang merupakan kota sungai karena banyak dialiri anak-anak sungai yang bermuara ke sungai Musi yang membelah kota Palembang perlu mengantisipasi dampak – dampak perubahan iklim. Menurut Arief Anshory Yusuf dan Herminia Francisco (2009), kota Palembang menduduki peringkat ke 16 dari tempat (distrik) paling rentan terhadap perubahan iklim di Asia Tenggara. Berdasarkan laporan IPCC dampak perubahan iklim pada daerah pesisir pantai / sungai yang mempunyai resiko paling tinggi adalah badai tropis, banjir dan meningkatnya muka air laut. Menurut CSIRO (2007), jenis infrastruktur yang memiliki resiko paling tinggi terhadap dampak perubahan iklim adalah infrastruktur gedung atau bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah pengembangan dari kajian kerentanan tingkat meso (meso-level, regional/propinsi) menjadi kajian kerentanan tingkat mikro (micro-level, kabupaten/kota) dan memberikan informasi tingkat kerentanan infrastruktur gedung sekolah SMPN/SMAN/SMKN terhadap dampak perubahan iklim di kota Palembang. Bagian paling utama untuk menentukan tingkat kerentanan adalah indeks kerentanan infrastruktur (IVI). Indeks kerentanan infrastruktur ditentukan berdasarkan indikator – indikator kerentanan
infrastruktur gedung seperti jumlah pengguna gedung (murid, guru dan pegawai), luas gedung, jarak gedung dari sungai dan infrastruktur drainase. Pada penelitian ini didapatkan IVI bangunan SMPN/SMAN/SMKN
maksimum 0.52 dan minimum 0.17, dimana jumlah sekolah moderate vulnerability adalah 43 dan low vulnerability adalah 39 sekolah. Analisa akhir pada kajian kerentanan adalah analisa resiko dengan
melakukan overlay antara bahaya dan tingkat kerentanan infrastruktur gedung. Dari hasil kajian resiko (risk assessment) diketahui bahwa terdapat 14 sekolah tingkat resiko tinggi (high risk), 29 sekolah tingkat resiko sedang (moderate risk), dan 33 sekolah tingkat resiko rendah (low risk). Sedangkan 6 sekolah tidak dapat dianalisa karena lokasi (koordinat) sekolah berada diluar peta administratif Kota Palembang. Tingkat bahaya(hazard) memberikan pengaruh yang signifikan pada tingat resiko (risk) bangunan SMPN/SMAN/SMKN.
Hal ini dapat dilihat dari jumlah sekolah yang memiliki tingkat kerentanan sedang (moderate vulnerability) menjadi tingkat resiko tinggi (high risk) yaitu 14 sekolah.

Kata kunci: perubahan iklim, bahaya, kerentanan, resiko, infrastruktur, IVI, ILWIS.

LATAR BELAKANG
Perubahan iklim adalah suatu proses yang panjang dan mengandung kompleksitas yang tinggi sehingga sangat sulit diprediksi dengan tepat. Meskipun dengan upaya mitigasi yang sangat ketat, iklim yang sudah berubah belum tentu dapat kembali kepada keadaan semula. Perubahan iklim dapat diidentifikasi dari kenaikan suhu (increasing temperature), perubahan pola curah hujan (change of rainfall pattern), kenaikan muka air laut (sea level rise) dan peningkatan kejadian ekstrim (increasing of extreme event).
Kajian kerentanan secara nasional telah dilakukan oleh Bappenas (Republik Indonesia) bekerja sama dengan GTZ (Deutsche Gesellschaft fuer Technische Zusammenarbeit) dalam skala nasional (makro) yang menghasilkan laporan gabungan ICCSR (Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap). Untuk kajian kerentanan skala meso regional/propinsi) telah dikembangkan di Pulau Lombok Propinsi Nusa Tenggara Barat (Suroso, dkk, 2009).

Gambar 1. Kajian Kerentanan Skala Makro dan Meso di Indonesia

Kota Palembang menduduki peringkat ke 16 dari tempat (distrik) paling rentan terhadap perubahan iklim di Asia Tenggara (Yusuf dan Francisco, 2009). Berdasarkan hasil kajian secara makro, Kota Palembang yang berada di lowland memiliki bahaya untuk mengalami banjir,
Berdasarkan laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dampak perubahan iklim pada daerah pesisir pantai / sungai yang mempunyai resiko paling tinggi adalah badai tropis, banjir dan meningkatnya muka air laut. Menurut CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation), jenis infrastruktur yang memiliki resiko paling tinggi terhadap dampak perubahan iklim adalah infrastruktur gedung atau bangunan. Sekolah sebagai salah satu infrastruktur umum (public infrastructure) perlu dilakukan kajian kerentanannya sebagai salah satu bagian dari strategi adaptasi kota dalam menghadapi perubahan iklim.

Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran tingkat kerentanan infrastruktur bangunan SMPN/SMAN/SMKN Kota Palembang terhadap dampak perubahan iklim yang dikembangkan dari kajian kerentanan tingkat meso – level (regional/propinsi) untuk menentukan strategi adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Penelitian difokuskan pada kajian kerentanan dan resiko infrastruktur gedung sekolah SMPN/SMAN/SMKN Kota Palembang terhadap dampak perubahan iklim yaitu kenaikan muka air laut, kejadian ekstrim (extreme event) seperti banjir.

TINJAUAN PUSTAKA

Perubahan kecil pada variable iklim berhubungan dengan besarnya tingkat kerusakan pada infrastruktur.

Bahaya
Bahaya adalah suatu gangguan serius terhadap fungsi suatu masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri. (ISDR, 2004).
Nick Brooks (2003) mengelompokkan bahaya perubahan iklim ke dalam tiga kategori yaitu:
Kategori 1 bahaya yang pasti berulang, kejadian singkat dan cepat berlalu seperti, badai, kekeringan dan kejadian curah hujan ekstrim.
Kategori 2 bahaya yang berlangsung terus menerus, seperti meningkatnya temperatur rata – rata atau menurunnya curah hujan rata – rata yang terjadi lebih dari beberapa tahun atau beberapa dekade.
Kategori 3 bahaya yang tidak pasti, seperti pergantian pada sistem iklim dengan perubahan pada sirkulasi air laut; rekaman Palaeoclimatic menyediakan banyak contoh kejadian perubahan iklim spontan yang digabungkan dengan serangan pada kondisi iklim baru yang akan dilakukan untuk waktu berabad – abad atau ribuan tahun.
Menurut IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) TAR, bahaya dari perubahan iklim pada daerah pesisir pantai / sungai yang mempunyai resiko paling tinggi adalah badai tropis, banjir dan meningkatnya muka air laut,

Kerentanan
Menurut IPCC TAR (2001, kerentanan didefinisikan sebagai ukuran dimana suatu sistem peka, atau ketidak mampuan untuk mengatasi, pengaruh perubahan iklim yang merugikan, termasuk variabel iklim dan kejadian ekstrim yang mudah berubah. Kerentanan merupakan fungsi dari karakter, besaran (magnitude), laju (rate) variasi iklim terhadap suatu sistem tanpa perlindungan yaitu sensitivitas dan kapasitas adaptasi.
V = f(E,S,AC) ……………………………. (1)
Kerentanan (V) adalah fungsi dari eksposure, sensitivitas, dan kapasitas adaptasi. Eksposur (E) menurut IPCC TAR adalah sifat alam dan ukuran suatu sistem yang tidak terlindungi terhadap jenis iklim penting. Eksposure atau keterpaparan mengacu pada penerimaan manusia dan infrastruktur terhadap terpaan suatu bahaya menurut lokasi serta pertahanan fisiknya.

Sensitivitas (S) (IPCC TAR, 2001) adalah ukuran dimana suatu sistem dipengaruhi, juga berlawanan atau saling menguntungkan, oleh pengaruh yang terkait dengan iklim. Menurut Buku Panduan Kajian Kerentanan dan Dampak Perubahan Iklim untuk Pemerintah Daerah (Kementerian Negara Lingkungan Hidup), sensitivitas merupakan komponen yang mengacu pada tingkat sensitivitas kerugian seseorang atau kelompok atau kegetasan suatu infrastruktur atau lingkungan terhadap terpaan suatu bahaya.

Kapasitas adaptasi (AC) menurut IPCC TAR adalah kemampuan suatu sistem melakukan penyesuaian terhadap perubahan iklim (termasuk jenis iklim dan kejadian ekstrim) untuk memperkecil kerusakan potensial, untuk mengambil keuntungan dari peluang yang ada, atau untuk mengatasi akibat yang akan terjadi.

Klasifikasi Kerentanan
Messner (2005) mengelompokkan kajian kerentanan berdasarkan skala daerah yang diteliti, yaitu skala makro, meso dan mikro (lihat Tabel 1).

Tabel 1. Perbedaan Level pada Kajian Kerentanan

Sumber : modifikasi dari Messner, 2005.

Menurut OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development, 2009), analisa skala local (mikro) sangat penting karena tiga alasan yaitu :
• Dampak perubahan iklim dinyatakan secara lokal. Perubahan iklim global diterjemahkan kedalam kejadian lokal pada respon terhadap geografi dan lingkungan setempat, faktor ekonomi dan sosial politik
• Kerentanan dan kapasitas adaptasi juga diwujudkan secara lokal. Ini karena kerentanan dan kapasitas adaptasi dalam konteks yang lebih spesifik, yang dihasilkan dari interaksi antara banyak faktor sosio-ekologi dan proses seperti tingkat pendapatan, pola penyelesaian, infrastruktur, ekosistem dan kesehatan, jenis kelamin, peran serta politik dan kebiasaan individu. Indeks kerentanan regional atau nasional sering menyembunyikan variasi yang dramatis pada kerentanan tingkat lokal.
• Tindakan adaptasi adalah pengamatan terbaik pada level lokal. Antisipasi atau pengalaman nyata pada dampak perubahan iklim membentuk adaptasi pembuatan keputusan dan aksi – kemudian menjadi terjemahan dari ilmu pengetahuan dan kapasitas pada kebiasaan dan aktivitas.

Indeks Kerentanan
Tujuan penting dari kajian kerentanan adalah menciptakan indeks kerentanan dari deretan indikator kerentanan. Brooks, N., et.al. (2005) mendefinisikan variabel kerentanan sebanyak 46 variabel yang mewakili kerentanan umum, mewakili kesejahteraan dan kesenjangan ekonomi, status kesehatan dan kecukupan gizi, pendidikan, infrastruktur, pemerintahan, geografi, faktor demografis, pertanian, ekosistem dan kapasitas teknologi. Data proxie mewakili masing – masing variabel yang diperoleh dari berbagai sumber, termasuk World Bank, UNDP, UNEP, dan CIESIN.
Rygel. L., et.al. (2006), merumuskan langkah – langkah menciptakan indeks kerentanan, yaitu, langkah pertama dengan penentuan indikator kerentanan yang sering digunakan dalam kajian kerentanan, seperti dibidang sosial yaitu kemiskinan, jenis kelamin, umur, suku dan etnik, cacat. Sedangkan untuk bidang infrastruktur, pada penelitian ini ditentukan seperti jenis infrastruktur. Kedua, menentukan proxie dari setiap indikator, proksi indeks yang lebih spesifik dari suatu indikator. Nilai dari setiap proxie ditetapkan pada skala dari 0 – 1, dengan nilai indeks tertinggi diindikasikan sebagai kerentanan tertinggi gabungan dari nilai (skor/angka) kerentanan dapat dibentuk untuk setiap unit spasial dengan menggabungkan skor indeks pada setiap proxie. Ketiga, analisa komponen utama kerentanan, variabel yang berbeda mungkin dipilih untuk menghadirkan indikator masing – masing yang tergantung pada beberapa faktor sebagai data yang dapat digunakan. Keempat, analisa hasil komponen utama yang akan menghasilkan indeks kerentanan.
Berdasarkan studi literatur tentang kajian kerentanan dan resiko yang pernah dilakukan, B. Setiawan. et.al. (2010) merumuskan framework dan konseptual model kajian kerentanan infrastruktur kota terhadap dampak perubahan iklim (lihat Gambar 2).

Sumber : Setiawan, dkk, 2010.
Gambar 2. Framework kajian kerentanan infrastruktur kota terhadap dampak perubahan iklim.

Resiko atau dampak adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan, atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.
Menurut IPCC, Resiko adalah fungsi dari kemungkinan dan besaran dari perbedaan dampak.

METODOLOGI PENELITIAN
a. Pengumpulan Data
– Data primer, dihasilkan dari survey lapangan terhadap seluruh banguanan sekolah SMPN, SMAN, dan SMKN di Kota Palembang. Data yang dikumpulkan berupa : koordinat titik bangunan, luas bangunan, jumlah pengguna bangunan (guru, murid, dan pegawai), kondisi lokasi bangunan sekolah dan historis banjir pada sekolah tersebut.
– Data Sekunder yaitu data iklim dan lingkungan, dan peta pendukung pada analisa spasial. Data iklim yaitu kenaikan muka air laut dan curah hujan. Peta pendukung analisa spasial yaitu, peta administrasi Kota Palembang, peta topografi/ Digital Elevation Model (DEM), peta infrastruktur sekolah, peta rawa.

b. Tabulasi Data,
Data dari hasil survey disusun kedalam tabulasi untuk memudahkan analisa awal menentukan scoring variabel kerentanan.
c. Kajian Bahaya Perubahan Iklim yaitu Kenaikan muka air laut dan banjir.
Pada tahap ini kajian dilakukan berdasarkan kedalaman banjir, durasi banjir dan kenaikan muka air laut. Untuk kenaikan muka air laut Indonesia telah diproyeksikan sesuai dengan Global Circulation Model (IPCC AR-4). Rata – rata kenaikan muka air laut yaitu 0.6 cm/tahun – 0.8 cm/tahun.
Tabel 2. Proyeksi Kenaikan Muka Air Laut sejak tahun 2000

Sumber : Hadi dan Sofian, 2010.

Tingkat / level bahaya dikelompokkan kedalam 3 kelas yaitu tinggi (high), sedang (moderate), dan rendah (low). Pada tahap ini didukung oleh peta bahaya banjir dan DEM.
d. Kajian Kerentanan Infrastruktur
Pada tahap ini tingkat kerentanan infrastruktur ditentukan berdasarkan Indeks Kerentanan Infrastruktur (IVI). IVI dihasilkan dari variabel kerentanan dan indikator / parameter infrastruktur yang memiliki resiko (element at risk) terhadap dampak perubahan iklim, seperti luas bangunan, jumlah pengguna (murid, guru dan pegawai), kondisi lokasi bangunan (rawa/bukan rawa), historis banjir, dan jarak bangunan sekolah dari sungai/rawa. Sama seperti bahaya (hazard), tingkat kerentanan juga dikelompokkan ke dalam 3 kelas yaitu tinggi (high), sedang (moderate), dan rendah (low).
e. Kajian Resiko
Berdasarkan notasi resiko dari Affeltranger, et.al. (2006) yang menyatakan bahwa resiko merupakan overlay dari bahaya dan kerentanan. Pada tahap ini analisa dilakukan menggunakan aplikasi GIS ILWIS. Berdasarkan tabel 2 dimensi dari tingkat bahaya dan tingkat kerentanan pada analisa spasial akan dihasilkan tingkat resiko infrastruktur (bangunan sekolah) kota terhadap dampak perubahan iklim.
f. Analisa output Kajian Resiko
Output dari kajian resiko adalah peta resiko yang mempunyai informasi tingkat resiko infrastruktur kota terhadap dampak perubahan iklim. Berdasarkan output tersebut dapat digunakan untuk menentukan strategi adaptasi dan teknologi yang akan digunakan dimasa yang akan datang untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kajian Bahaya
1. Banjir (Genangan)
Pada penelitian ini peta genangan disimulasikan menggunakan DEM dengan skenario rendaman terjadi pada elevasi 6 dpl dengan ketinggian rendaman 15 cm.
Kedalaman genangan banjir berdasarkan elevasi DEM, jika elevasi lebih dari atau sama dengan ketinggian skenario genangan banjir maka daerah tersebut tidak tergenang, berlaku sebaliknya untuk menentukan daerah yang tergenang.
Peta Genangan Banjir = iff(DEM>=d,0,(d-DEM))
Dimana, d merupakan ketinggian air. Skenario dilakukan pada elevasi 6 m dpl dan ketinggian genangan 15 cm. Sehingga didapatkan nilai d = 6.15. Dari simulasi DEM diketahui bahwa kedalaman genangan banjir 15 cm – 5.15 m (Gambar 3).

Gambar 3. Peta Potensi Bahaya Banjir (Genangan) Kota Palembang.

2. Kenaikan Muka Air Laut
Kota Palembang berada pada jarak ± 90 Km dari muara sungai sehingga sangat dipengaruhi oleh pasang surut muka air laut. Fluktuasi pasang surut rata – rata + 1.05 dan maksimum +1.8 dari permukaan air laut.
Kenaikan muka air laut Indonesia telah diproyeksikan sesuai dengan Global Circulation Model (IPCC AR-4). Rata – rata kenaikan muka air laut yaitu 0.6 cm/tahun – 0.8 cm/tahun. Sama halnya dengan peta genangan banjir, peta pasang surut (tidal) dan kenaikan muka air laut (Sea Level Rise) disimulasikan menggunakan DEM dengan beberapa skenario.
Tabel 3. Skenario Bahaya Kenaikan Muka Air Laut

Skenario I merupakan simulasi genangan akibat pasang maksimum (+1.8 m). Dari peta Skenario I dapat dilihat bahwa ketinggian genangan akibat pengaruh dari pasang surut + 76 cm sampai 3.8 m. Daerah yang terkena dampak dari genangan pasang maksimum adalah kecamatan Gandus, Ilir Barat I, Kertapati, Sako, Sematang Borang, Kalidoni, dan sebagian Plaju.


Gambar 4. Peta Potensi Bahaya Kenaikan Muka Air Laut Kota Palembang

Berdasarkan skenario bahaya kenaikan muka air laut pada ketinggian pasang rata – rata dan ketinggian pasang maksimum terdapat perbedaan luas area bahaya yang sangat signifikan. Pada skenario menggunakan ketinggian pasang rata – rata luas area bahaya kenaikan muka air laut adalah 3498.72 Ha, sedangkan pada ketinggian pasang maksimum luas area bahaya kenaikan muka air laut 7288.3 Ha. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Peta Zonasi Bahaya Kenaikan Muka Air Laut Tahun 2030 Kota Palembang Menggunakan Ketinggian Pasang Rata – Rata (Kiri) dan Maksimum (Kanan)

Pada kajian ini bahaya yang didapatkan merupakan hasil akumulasi dari bahaya banjir genangan (inundant) dan kenaikan muka air laut (sea level rise). Berdasarkan hasil skenario yang dilakukan pada kenaikan muka air laut maka simulasi bahaya total pun menggunakan skenario. Dari Kajian bahaya ini diketahui diketahui memiliki luas area bahaya 12658.73 Ha atau 31.6 % dari luas Kota Palembang.


Gambar 6. Peta Potensi Bahaya Perubahan Iklim Kota Palembang

Secara visual tidak bisa dilihat perbedaan yang signifikan diantara skenario proyeksi bahaya (hazard) perubahan iklim, hal ini dikarenakan perubahan ketinggian muka air laut (sea level rise) yang terjadi 0.6 – 0.8 cm/tahun.

Kajian Kerentanan
Tingkat kerentanan infrastruktur ditentukan berdasarkan Indeks Kerentanan Infrastruktur (Infrastructure Vulnerability Index – IVI). Pada penelitian ini indeks kerentanan dihasilkan dari beberapa indikator yang dimiliki oleh elemen yang mempunyai potensi resiko (element at risk) terhadap dampak perubahan iklim. Elemen yang mempunyai resiko tersebut adalah jenis infrastruktur. Indikator yang digunakan untuk mendapatkan Indeks Kerentanan Infrastruktur yaitu luas bangunan, jumlah pengguna sekolah (murid, guru dan pegawai), historis/sejarah banjir yang pernah terjadi pada sekolah, kondisi lokasi sekolah terletak di daerah rawa atau tidak, dan jarak sekolah dari sungai, mengingat Kota Palembang sebagian besar adalah rawa dan dialiri banyak sungai. Indeks kerentanan infrastruktur bernilai 0 – 1 (Rygel, L. Et.al., 2006), dengan nilai indeks tertinggi diindikasikan sebagai kerentanan tertinggi. Indeks merupakan gabungan dari proxie (nilai/skor) parameter/indikator kerentanan. Pada penelitian ini menggunakan 5 parameter sehingga setiap indikator memiliki niai proxie 0 – 0.2, dengan nilai proxie tertinggi adalah tingkat kerentanan tertinggi di parameter tersebut yang dirumuskan sebagai berikut:
Indeks Kerentanan (1) = proxie Luas Bangunan + proxie User + proxie historis banjir + proxie lokasi rawa (tidak) + proxie jarak bangunan dari sungai
Pada indikator ”Luas Bangunan” pembobotan proxy berdasarkan penentuan interval kelas pada luas bangunan sekolah. Untuk luas bangunan ≤ 6353 m2 memiliki proxy 0.15, 6354m2 – 11677m2 memiliki proxy 0.2, dan luas bangunan ≥ 11678 m2 memiliki proxy 0.65. Hal yang sama juga berlaku pada indikator ”User” dan ”Jarak Bangunan dari Sungai”. Sekolah yang memiliki user ≤ 937 orang memiliki proxy 0.15, 938 – 1458 orang memiliki proxy 0.2, ≥1459 orang memiliki proxy 0.65. Sedangkan sekolah yang mempunyai jarak dari sungai ≤ 1094 m memiliki proxy 0.65, 1095 – 2155 m memiliki proxy 0.2, ≥2156 m dari sungai memiliki proxy 0.15. Hasil analisa kerentanan terhadap indikator luas bangunan, user dan jarak bangunan dari sungai diperlihatkan dalam Gambar 7.

Gambar 7. Peta Kerentanan Bangunan SMPN/SMAN/SMKN dengan Parameter Luas Bangunan, User dan Jarak Bangunan dari Sungai
Pada parameter ”Historis Banjir” dan ”Lokasi Rawa” pembobotan berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan lapangan lokasi pada saat survei, yaitu sekolah pernah mengalami banjir atau tidak dan lokasi sekolah berada di area rawa atau tidak, sehingga kedua parameter ini memiliki nilai proxy maksimum 0.8 dan 0.2 untuk proxy minimum. Hasil analisanya ditampilkan dalam Gambar 8.

Gambar 8. Peta Kerentanan Bangunan SMPN/SMAN/SMKN dengan Parameter

Historis Banjir dan Lokasi Rawa
Tingkat kerentanan diklasifikasikan dalam beberapa kelas yaitu tinggi (high), sedang (moderate), rendah (low), yang dihasilkan berdasarkan pembobotan (scoring/weighting) indeks kerentanan infrastruktur. Tingkat kerentanan infrastruktur (Bangunan SMPN/SMAN/SMKN) dihasilkan dari MapCalculation menggunakan aplikasi GIS ILWIS.
Berdasarkan hasil proses perhitungan dengan menggunakan aplikasi GIS ILWIS maka menghasilkan peta kerentanan bangunan SMPN/SMAN/SMKN Kota Palembang dengan informasi tingkat kerentanannya. Pada peta kerentanan tersebut (Gambar 9) diketahui bahwa bangunan SMPN/SMAN/SMKN tidak mencapai tingkat kerentanan tinggi.

Gambar 9. Peta Kerentanan Bangunan SMPN/SMAN/SMKN dan DEM Kota Palembang

Berdasarkan hasil analisa tingkat kerentanan tersebut di atas dapat dapat diketahui jumlah bangunan SMPN/SMAN/SMKN yang ditampilkan dalam Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah SMPN/SMAN/SMKN di Kota Palembang Berdasarkan Tingkat Kerentanan

Kajian Resiko
Menurut Affeltranger, et.al. (2006), resiko adalah fungsi dari bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability).
Resiko (R) = Bahaya (H) x Kerentanan (V)
Tingkat resiko diklasifikasikan kedalam 3 kelas yaitu resiko rendah (low risk), resiko sedang (moderate risk), dan resiko tinggi (high risk). Tingkat resiko dihasilkan dari overlay tingkat bahaya dan tingkat kerentanan pada table 2 dimensi. Dari hasil analisa resiko menggunakan aplikasi GIS ILWIS diketahui bahwa terdapat 14 sekolah yang mempunyai tingkat resiko tinggi (high risk), 29 sekolah tingkat resiko sedang (moderate risk), dan 33 sekolah dengan tingkat resiko rendah (low risk). Sedangkan 6 sekolah tidak dapat dianalisa karena lokasi (koordinat) sekolah berada diluar peta administratif Kota Palembang. Hasil analisa resiko skenario I diperlihatkan dalam Tabel 4 danGambar 10.

Tabel 4 Jumlah SMPN/SMAN/SMKN di Kota Palembang Berdasarkan Tingkat Resiko


Gambar 10. Peta Resiko Bangunan SMPN/SMAN/SMKN Kota Palembang Terhadap Dampak Perubahan Iklim

KESIMPULAN
Dari hasil analisa yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Berdasarkan hasil skenario bahaya diketahui luas daerah yang mempunyai potensi bahaya (hazard) perubahan iklim adalah 12658.73 Ha atau 31.6 % dari luas Kota Palembang.
2. Tingkat kerentanan infrastruktur sangat dipengaruhi oleh Indeks Kerentanan Infrastruktur (IVI). IVI pada setiap jenis infrastruktur akan berbeda selain tergantung dari parameter/indikator yang ada pada jenis infrastruktur tersebut, IVI juga dipengaruhi oleh kondisi lokasi infrastruktur.
3. Pada penelitian ini didapatkan IVI bangunan SMPN/SMAN/SMKN maksimum 0.52 dan minimum 0.17, dimana jumlah sekolah moderate vulnerability adalah 43 dan low vulnerability adalah 39 sekolah.
4. Dari hasil kajian resiko (risk assessment) diketahui bahwa terdapat 14 sekolah yang mempunyai tingkat resiko tinggi (high risk), 29 sekolah tingkat resiko sedang (moderate risk), dan 33 sekolah dengan tingkat resiko rendah (low risk). Sedangkan 6 sekolah tidak dapat dianalisa karena lokasi (koordinat) sekolah berada diluar peta administratif Kota Palembang.
5. Tingkat bahaya (hazard) memberikan pengaruh yang signifikan pada tingat resiko (risk) bangunan SMPN/SMAN/SMKN. Hal ini dapat dilihat dari jumlah sekolah yang memiliki tingkat kerentanan sedang (moderate vulnerability) menjadi tingkat resiko tinggi (high risk) yaitu 14 sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman, Oman and Setiawan, Budhi. 2010. Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap: Water Resources Sector, Editors: Djoko Suroso, Irving Mintzer, Syamsidar Thamrin, Heiner von Luepke, Philippe Guizol, Dieter Brulez. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. ISBN: 978-979-3764-49-8

Brooks, N., 2003, Vulnerability, risk and adaptation : A conceptual framework, Tyndall Center, Working Paper No 38.

Brooks, N., Neil Adger, W., and Mick Kelly, P., 2005, The Determinants of vulnerability and adaptive capacity at national level and the implications for adaptation, Elsevier Ltd.

CSIRO Marine and Atmospheric, 2007, Infrastructure and Climate Change Risk Assessment for Victoria, A Victoria Government Initiative, Australia. ISBN: 978-1-74152-858-9.

Cutter, Susan L., Bryan J. Boruff, and W. Lynn Shirley, 2003, Social Vulnerability to Environmental Hazards, Social Science Quarterly, Volume 84, Number 2, Southwestern Social Science Association.

Freeman, P. and Warner, K., 2001, Vulnerability of Infrastructure to Climate Variability: How Does This Affect Infrastructure Lending Policies?, Report Commissioned by the Disaster Management Facility of The World Bank and the Pro Vention Consortium, Washington.

Hadi, Tri Wahyu and Sofian, Ibnu. 2010. Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap: Scientific Basis, Editors: Djoko Suroso, Irving Mintzer, Syamsidar Thamrin, Heiner von Luepke, Philippe Guizol, Dieter Brulez. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. ISBN: 978-979-3764-49-8

IPCC, 2001, Climate change 2001: Impacts, Adaptation and Vulnerability, Summary for Policymakers, WMO.

IPCC, 2007, Climate Change 2007: The Project Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change.

ISDR, 2004, Living With Risk, United Nation, Washington.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2009, Buku Panduan Kajian Kerentanan dan Dampak Perubahan Iklim : Untuk Pemerintah Daerah, Author : Djoko Suroso Ph.D, Dr. Tri Wahyu Hadi, Dr. Asep Sofyan, Dr. Ibnu Sofian, Dr. Hamzah Latief, Dr. Budhi Setiawan, Dr. Anggara Kasih, Novi Nuryani, ST.

Messner F., dan Meyer V., (2005), Flood damage, vulnerability and risk perception –challenges for flood damage research, UFZ Discussion Paper 13/2005.

OECD, 2009, Integrating Climate Change Adaptation Into Development Co-operation : Policy Guidance, Chapter 10 : Introduction to Local Level. ISBN-978-92-64-05476-9.

Rygel, L., O’sullivan D., dan Yarnal, B., 2006, A Method for Constructing a Social Vulnerability Index : An Application to Hurricane Storm Surges in a Developed Country, Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change (2006) 11: 741–764, Springer Ltd.

Setiawan, Budhi, Puspita, Norma dan Setiojati, Ambiyar, 2010, Vulnerability Assessment of Urban Infrastructure : A Framework and Conceptual Model, Proceeding Seminar Nasional Teknik Sipil VI – 2010. Vol II : p-C61-C70. ISBN 978-979-99327-5-4.

Suroso, D., Wahyudi, T., Sofian, I., Latief, H., Abdurahman, O., dan Setiawan. B., 2009, Vulnerability of Small Islands to Climate Change in Indonesia : a case study of Lombok Island, Province of Nusa Tenggara Barat, Proceeding WOC Conference: Water and Coastal Sector, Manado.

Yusuf, Arief A., dan Francisco, H., 2009, Climate Change Vulnerability Mapping for Southeast Asia. Economy and Environment Program for Southeast Asia.

=Note : This article had been published as proceeding in Konferensi Nasional Pascasarjana Teknik Sipil, May 26, 2010, Institut Teknologi Bandung, ISBN :978-979-16225-5-4

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: